Pelaksanaan Upacara Manda Sebagai Tradisi Ngesanga Di Desa Pakraman Bugbug
Konsep Upacara Manda (Ngesanga)
Upacara Manda adalah sebuah tradisi Ngesanga yang hanya ada di Desa Pakraman Bugbug yang dilaksanakan secara turun temurun yang menjadi sebuah budaya yang mentradisi dan merupakan suatu khasanah budaya yang dimiliki oleh Bali pada umumnya yang harus dijaga kelangsungannya dimana kata Manda ini berarti keliling atau mengelilingi, menurut kamus Jawa Kuno-Indonesia (1994 : 46-37) Kata Manda ini beasal dari kata anda yang berarti Telor atau bulat atau keliling, akan tetapi dalam kamus bahasa kawi kata Manda ini berarti Lemah (Palemahan) atau lingkungan, sehingga disimpulkan kata Manda ini berarti keliling yaitu mengelilingi palemahan atau lingkungan sekitar. (Kamus Jawa Kuno, 1994 :640-641).
Kata Manda ini juga sedikit tersurat dalam Lontar Pangaci-aci Desa Pakraman Bugbug Kabupaten Karangasem 7.a-8.b, antara lain sebagai berikut :
Teka uli jumah jempanane muang taruna pabungayan Manda telung ilehan, wus Manda joline munggah ka panggungan akejep, raris tuwun joli mamapag, Manda ping telu raris mangambeng ka kelog kangin mangadu joli,uling datah sareng mangambeng, bebandeme mambarin, pade masurak-surak, den pada rame, enak bhatarane matemu, ramening surak haci-haci ring gumang, mawetu landuh ikang sarwa tumuwuh. . . . .
Terjemahan :
Datang dari rumah (Desa Pakraman Bugbug) semua jempana dan Tarunan Desa yang membawa sasurakan dari daun jaka (enau) Manda/mapahileh (berkeliling) tiga kali, baru kemudian naik (di stanakan) di panggungan hanya sebentar. Kemudian semua jempana diusung tedun (turun) dari panggungan untuk menyambut kedatangan para dewa dari desa Pakraman Jasri, Ngis, Bebandem, dan Datah untuk kemudian Manda/mapaileh tiga kali dan langsung menuju kelod kangin untuk mengadu joli (usungan para dewa). Dari desa Pakraman Datah ikut mabiasa/mangadu joli, dan dari Bebandem nyambut dengan riang gembira, semuanya dengan sorak-sorai penuh suka cita persaudaraan yang menyebabkan para dewa menjadi senang bertemu. Ramainya sorak-sorai pada saat usabha di pura Bukit Gumang menyebabkan kesuburan yang berlimpah. . . . .
Dalam Lontar tersebut diatas dapat menguatkan arti dari kata Manda tersebut yaitu mempunyai arti ‘Keliling’.
Ngesanga adalah suatu bentuk upacara yang biasanya dilakukan menjelang atau sehari sebelum Perayaan Nyepi. Akan tetapi Ngesanga di Desa Bugbug dilaksanakan pada waktu sasih kawolu menjelang sasih kesanga tepatnya pada waktu sasih kawulu nuju busaya, sajeroning panglong ping: 13,14,15. karena dalam perhitungannya manda ini mengambil awal dengan patokan Tilem (bulan mati). Sehingga, harus mengambil sasih kawolu karena dalam hitungan bulan pada tahun Masehi tidak ada tilem dilaksanakan dua kali karena itulah dilaksanakan pada akhir sasih kawolu dan mengambil ke busaya (Wawancara, Resi : 11 Agustus 2009).
Sebenarnya hampir kebanyakan Usabha yang ada di desa Bugbug mengambil perhitungan Beteng ( Tegeh) dalam konsep Tri Wara. Begitupula dengan pelaksanaan manda ini yang merupakan rangkain dari Upacara Nyepi Desa di Desa Pakraman Bugbug. dan yang mengambil beteng itu sebenarnya Upacara Nyepi Desa yang merupakan puncak acara, dan sehari sebelum beteng adalah pasah/busaya. Sehingga upacara manda ini disebut ngesanga di Desa Pakraman Bugbug karena merupakan sebuah rangkaian dari Upacara Nyepi Desa tersebut (Wawancara, Resi : 11 Agustus 2009).
Kesanga di desa bugbug adalah sebuah kata ambigu yang memiliki dua makna, disatu sisi merupakan Ngesanga dan disisi lain mempunyai arti ‘disahkan’ karena penggunaan dialek yang berbeda di Desa Bugbug yang cenderung mengakhiri kata dengan huruf ‘a’ kesanga kalau di Desa Bugbug berarti ‘kasahanga’ (disahkan) dan yang disahkan itu adalah sekumpulan prasasti yang disebut Raja Purana yang menjadi Piodalan Raja Purana tersebut yang disebut Manda
Tradisi Ngesanga/Manda ini dilaksanakan setahun sekali tepatnya setiap sasih kawulu nuju busaya, sajeroning panglong ping: 13,14,15. Upacara ini dilaksanakan berdasarkan atas kepercayaan turun-temurun dari leluhur dan masyarakat Desa Bugbug melaksanakan tradisi tersebut dengan apa adanya sesuai dengan yang diwariskan oleh leluhur mereka secara turun-temurun dan masyarakat tidak berani mengurangi ataupun melebihkan upacara tersebut. Manda ini dilaksanakan hanya sehari Masyarakat melaksanakan Manda karena mereka berkeyakinan bahwa dengan melaksanakan tradisi tersebut, masyarakat akan memperoleh kesuburan kesejahteraan dan ketentraman
Penyelenggara Manda secara umum dilaksanakan oleh seluruh komponen masyarakat. Akan tetapi, dalam pelaksanaanya dilakukan oleh Pinandita lanang-istri (Orang yang disucikan didesa Bugbug), Taruna Pasting , Daha-taruna Desa (Krama Arep), Daha-Taruna Banjar adat, Prajuru, Nayaka dan BPK (perangkat desa adat), Gong Desa. PerayaanNgesanga di Desa Pakraman Bugbug tergolong unik karena perayaan seperti ini hanya terdapat di Desa Pakraman Bubug saja, hal ini juga disebabkan karena dalam penggunaan simbol-simbol serta Upakara yang begitu kompleks, mulai dari jenis upakara/bebanten dan sarana pendukung lainnya seperti penggunaan Sasurakan (sebatang pelepah enau yang daunnya disisakan pada ujungnya saja dan dihiasi menggunakan janur) dan Cepetik (canang atau berupa persembahan yang terbuat dari janur yang dirangkaikian dan dihiasi dengan beraneka macam kembang).
Kegiatan prosesi Manda ini dilaksanakan Tiga tahap yaitu:
1) Tahap Persiapan
Tahap Persiapan menyangkut segala kelengkapan yang berhubungan dengan bebanten yang dipersiapkan oleh desa adat, dan persiapan sasurakan serta cepetik yang dipersiapkan oleh krama Daha-taruna yang mengikuti prosesi Manda tesebut dan persiapan Gong Desa (observasi, 24 Februari 2009).
2) Tahap Pelaksanaan
Tahap Pelaksanaan ini berhubungan dengan pelaksanaan Manda tersebut yaitu kegiatan berkeliling yang diikuti oleh Pinandita, seluruh Daha-Truna, perangkat desa adat dan gong desa (observasi, 24 Februari 2009).
3) Tahap penutupan
Tahap Penutupan ini dilangsungkan dengan persembahyangan bersama di natar Bale Agung (Pura Desa), dan diakhiri dengan nedunang Sang Hyang Raja Purana dari Pura Piit menuju Pura Panti yang keesokan harinya dilaksanakan Catur Brata Panyepian (Nyepi Adat) (observasi, 24 Februari 2009).
Manda ini tergolong upacara Bhuta Yadnya dalam Panca Yadnya, dimana upacara tersebut merupakan upacara untuk menyimbangkan Bhuana Agung dan Bhuana alit sehingga terwujudnya masyarakat yang sejahtera lahir maupun bhatin.
Manda sebagi Tradisi Ngesanga bagi masyarakat Desa Pakraman Bugbug pada khususnya dan masyarakat Hindu pada umumnya mengandung nilai sosial dan nilai estetika yang luhur. Hal ini terbukti dari solidaritas kepada lingkungan masyarakatnya yang masih setia kepada tradisi yang masih eksis sampai sekarang khususnya Manda. Dan seluruh komponen masyarakat Bugbug mempunyai antosiasme dan kesadaran yang tinggi dalam proses pelaksanaan Manda dengan berpegang teguh pada falsafah Tri Hita Karana. Sehingga keberadaan Manda di Desa Pakraman Bugbug merupakan salah satu identitas masyarakat Desa Pakraman Bugbug, yang dapat membedakannya dengan seluruh desa adat yang ada di Bali maksudnya bukam perbedaan secara vertikal akan tetapi secara horizontal dimana Manda ini hanya dilangsungkan di Desa Pakraman Bugbug.
Prosesi Jalannya Manda Sebagai Tradisi Ngesanga di Desa Pakraman Bugbug
Manda merupakan salah satu nama dari upacara keaagamaan yang tergolong upacara Bhuta Yadnya yang di selenggarakan di Desa Pakraman Bugbug yang rutin dilaksanakan setahun sekali. Sebagaimana yang dijelaskan diatas bahwa Manda ini dilaksanakan pada awal sasih kawolo nuju busaya, sajeroning penanggal ping: 13, 14, 15. Yang dilaksanakan dalam tiga tahapan dan diikuti oleh Pinandita lanang-istri (Orang yang disucikan didesa Bugbug), Taruna Pasting , Daha-taruna Desa (Krama Arep), Daha-Taruna Banjar adat, Prajuru, Nayaka dan BPK (perangkat desa adat), Gong Desa. Dan sekaligus menjadi piodalan Sang Hyang Raja Purana (observasi, 24 Februari 2009).
Sebelum dilaksanakan prosesi Manda ini, seluruh perangkat desa dari Bandesa Adat, Kelihan Adat, Prajuru dan Nayaka berperan serta dalam persiapan yang berhubungan dengan bebanten dan Jambal untuk mendukung prosesi Manda tersebut. Jambal ini berupa kue khas ala Bali ini memakai catur warna, merah, kuning, putih dan hitam. Dan merupakan simbol dari Panca dewata yang berstana di empat penjuru mata angina yaitu di sebelah Utara (Purwa), Timur (Pascima), Selatan (Daksina), Barat dan dibagian tengah.
1) Warna Merah yaitu berupa jaja barak (terbuat dari Beras Ketan yang dicampur dengan Gula merah/gula Bali.
2) Warna Putih yaitu Kue yang hanya terbuat dari Beras Ketan yang tidak dicampur apa-apa.
3) Warna Hitam yaitu berupa jaja Injin ( Kue yang terbuat dari Beras hitam ).
4) Kuning yaitu berupa Jaje Biu yang terbuat dari beras Ketan yang dicampur dengan Pisang.
5) Pada bagian tengah ini berupa penggabungan dari keempat unsur tersebut yang terdiri dari Kelapa yang diparut, Gula Aren, dll.
Desa adat mempunyai peran yang sangat besar dalam pelaksanaan Upacara atau Aci-aci di Desa Bugbug, buktinya dalam setiap pelaksanaan Usabha ditanggung sendiri oleh pihak desa adat tanpa membebani krama masyarakat, buktinya dalam setiap prosesi atau kegiatan yang berhubungan dengan adat, pembangunan fisik desa maupun Pura ini sedikitpun masyarakat tidak dikenai urunan untuk membiayai upacara tersebut. Khusus untuk Manda ini segala sesuatu dipersiapkan dan ditanggung oleh Desa Adat, dari penyediaan alat-alat upakara yang berupa bebanten untuk jalannya prosesi Manda tersebut. Akan tetapi alat-alat upakara yang lain yang berupa sasurakan dan cepetik disiapkan sendiri-sendiri oleh para peserta yang mengikuti kegiatan tersebut baik tarunan atau Dahan Desa (Krama Desa Ngerep) maupun Truna-Daha Banjar (Wawancara, I Ketut Resi: 4 Juni 2009).
Jika Tahap persiapan sudah lengkap maka prosesi Manda dapat dilaksanakan dengan cara Daha dan Truna dibagi menjadi dua barisan yaitu sebelah kanan Truna dan sebelah kiri Daha sebagai lambang dari sistem kekerabatan yang ada di Desa Pakraman Bugbug yang menganut sistem Patrilineal, dan bagi yang laki-laki membawa sebatang pelepah eneu yang dihiasi menggunakan janur atau busung dan didesa setempat disebut dengan sasurakan dan barisan paling depan membawa batang dap-dap. Kayu dap-dap ini disebut juga “kayu sakti” karena kayu ini mudah hidup dimana saja dan disimbolkan sebagai lambang kesuburan. Dan yang perempuan atau Daha membawa cepetik yaitu sebuah canang. Barisan yang paling depan yaitu Taruna Pasting yang diikuti oleh pemangku, Krama Ngarep, Daha-Truna Banjar adat, Perangkat desa adat dan yang terakhir yaitu Gong desa. Untuk tata busananya juga diatur yaitu seperti orang-orang Bali kuno (observasi, 24 Februari 2009).
Kegiatan berkeliling atau Manda dapat dilangsungkan di bawah komando dari bandesa adat, barisanpun mulai menuju Pura Pasek dan Pura Puseh disana barisan hanya berkeliling sekali, kemudian menuju kearah selatan yang melewati Pura Piit dan menuju Banjar Segaa dan di depan Pura Penyarikan barisan kembali lagi menuju ke arah utara menuju Pura Desa dan di Pura Desa barisan berkeliling lagi sebanyak tiga kali putaran, kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan bersama yang diikuti oleh seluruh komponen masyarakat untuk memohon berkat dan karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa. sehabis persembahyangan bersama dilakukan. Maka, Daha-Teruna kembali ke Banjar masing-masing untuk menerima hidangan berupa kue atau jajan khas ala Bali yang diistilahkan dengan Jambal yang diterima dari Desa. akan tetapi, Khusus untuk Krama Ngarep, Prajuru/Dulun Desa hidangan Jambalnya disediakan di Bale Lantang (Bale Agung) sedangkan Pinandita dan Taruna Pasting disediakan di Panti dan upacara ini diakhiri dengan nedunang Sang Hyang Rajapurana dari pura Piit menuju Pura Panti dan keesokan harinya dilaksanakan Nyepi Desa manut Dresta (observasi, 24 Februari 2009).
Sang Hyang Widhi Wasa ini merupakan sekelompok prasasti tembaga (Tambra Prasasti) yang berjumlah 10 lembar, dimana prasasti tersebut memiliki ukuran panjang 40 cm, lebar 9 cm, dan tiap-tiap sisinya (timbal balik) disusun 7 baris huruf. Sedangkan pada lembaran terakhir yang tanpa nomor pada salah satu sisinya disusun tiga baris huruf yang mana agak berbeda dengan kesembilan lembar lainnya, dan bahasanya menggunakan bahasa dan huruf Jawa kuno. Isi singkat prasasti tersebut diantaranya : prasasti tersebut berangka tahun 1103 Çaka (1181 Masehi) yang menyebutkan paduka Çri Maharaja Aji Jaya Pangus Arka Jacihna beserta kedua permaisuri beliau yang bernama paduka Çri Parameçwari Induja Lancana dan paduka Çri Mahadewi Çaçangka Jaketana menyebutkan nama desa serta batas-batas desa, menguraikan organisasi desa/masyarakat desa, pelaksanaan upacara keagamaan, peraturan desa (awig-awig) yang kesemuanya bertujuan untuk memulihkan ketertiban dan kesejahteraan penduduk. Sepata atau kutukan yang dikenakan kepada penduduk andaikata ada diantara mereka merubah atau melanggar keputusan raja yang telah disahkan dan dipersaksikan kehadapan Tuhan beserta seluruh manifestasi-Nya, para pemuka agama dari kelompok Siwaisme, Budhism dan sekte-sekte lainnya yang pernah berkembang di Desa Bugbug pada waktu bertahtanya Çri Maharaja Aji Jaya Pangus. Melihat angka tahun prasasti tersebut, yang berangka tahun 1103 Çaka (1181 Masehi) Desa Pakraman Bugbug telah ada, maka bila dihitung berdasarkan tahun tersebut sampai sekarang, jadi Desa Pakraman Bugbug telah ada kurang lebih 827 tahun dengan segenap budaya dan tradisi yang masih eksis sampai sekarang ini (Pawaka, wawancara, 29 Mei 2009).
Tujuan Pelaksanaan Manda sebagai Tradisi Ngesanga di Desa Pakraman Bugbug
Pada dasarnya tujuan dari pelaksanaan Manda sama dengan Pelaksanaan Tawur Agung Ngesanga akan tetapi hanya berbeda pada bentuk dan tata cara pelaksanaannya akan tetapi secara prinsip sama yaitu merupakan upaya dan usaha untuk mengaplikasikan nialai-nilai yang terdapat dalam konsepsi dari ajaran Tri Hita Karana. yang bagi kaum bakta dan karmamargin, dengan menggunakan upakara atau banten sebagai sadhananya dalam mengaplikasikan poin pertama yaitu dengan menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber dari yang ada dan yang akan ada (Parhyangan). Dan juga sebagai pemersatu masyarakat dimana dalam pelaksanaan tradisi ini tidak akan pernah lepas dari hubungan manusia dengan sesamanya (Pawongan) yang dapat menambah keakraban, rasa kekeluargaan, solidaritas yang tinggi sehingga menimbulkan kehidupan yang harmonis, disamping itu juga untuk menyeimbangkan antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Walaupun Tradisi ini masuk kedalam golongan Bhuta Yadnya akan tetapi konsep Tri Hita Karana tidak pernah ditinggalkan dan akan diberlakukan terus karena konsep ini dikatakan sudah mendarah daging dengan seluruh tradisi yang merupakan khasanah budaya yang ada di Bali (I Ketut Resi, Wawancara 4 Juni 2009).
Selain untuk mendapatkan kesejahteraan bagi masyarakat, Manda memiliki berbagai tujuan. Adapun tujuan tersebut antara lain:
1). Sebagai Pengaplikasian Konsep Tri Hita Karana
Dalam setiap pelaksanaan suatu Yadnya yang tergabung dalam Panca Yadnya, sudah tentu memiliki hubungan erat dengan pengaplikasian dari konsep Tri Hita Karana apalagi hal ini berhubungan dengan pelaksanaan Bhuta Yadnya, dimana keseimbangan antara Buhuana Agung dengan Buhuana Alit harus tetap seimbang sehingga dapat menimbulkan kemakmuran (fungsi Palemahan), Hubungan manusia dengan tuhan juga harus tetap terjalin (Fungsi Parhyangan) serta yang tidak kalah penting yaitu hubungan manusia dengan sesamanya dimana hal ini dapat memperkokoh hubungan kekeluargaan (Fungsi Pawongan).
Manda adalah suatu pelaksanaan Tawur agung kesanga yang dilaksanakan di desa Pakraman bugbug setiap tahun tepatnya setiap sasih kawulu nuju busaya, sajeroning panglong ping: 13,14,15, yang juga bertepatan dengan piodalan Sang Hyang Widhi Wasa di Pura Piit (Awig-awig Desa Adat Bugbug). Pada pelaksanaan Tradisi ini Konsep Tri Hita Karana memang sudah tertanam didalamnya yang berhubungan dengan Parhyangan, Palemahan Dan Pawongan. Dan ketiga aspek inilah yang terus dipegang sebagai landasan dalam menjaga hubungan antar umat manusia disamping hubungan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan untuk menjaga keseimbangan antara Bhuana Agung dengan Bhuana Alit (I Ketut Resi, Wawancara 4 Juni 2009).
a) Parhyangan
Parhyangan adalah salah satu bagian dari konsep Tri Hita Karana yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan dimana dalam prosesi Manda ini memang sudah tertanam unsur ini, dimana bisa dilihat dalam pelaksanaan persembahyangan bersama di Natar Bale Agung yang dulu merupakan sebuah Telaga yang besar dengan air berwarna biru (Telaga Ngembeng/Banyu Wka) yang dilaksanakan oleh seluruh elemen dan tingkatan masyarakat yang ada di Desa Pakraman Bugbug yang dilakukan sehabis pelaksanaan “keliling” atau kegiatan Manda, yang bertujuan untuk memohon kesejahteraan, kedamaian lahir dan bhatin. Sehingga, seluruh masyarakat khususnya masyarakat Desa Pakraman Bugbug mendapatkan kerahajengan untuk dapat melaksanakan Catur Brata Panyepian yang dilaksanakan sehari setelah pelaksanaan Manda tersebut (I Ketut Resi, Wawancara 4 Juni 2009).
b) Pawongan
Pawongan adalah sebuah kata yang berasal dari kata “Wong” yang artinya manusia jadi pawongan disini adalah sebuah kata yang memiki makna yang berarti hubungan manusia dengan sesamanya, dan juga menyangkut bagaimana manusia membina hubungan yang harmonis antar manusia yang lainya, sehingga terciptanya Jagadhita yang artinya kebahagiaan saat ini ketika seseorang itu masih hidup yang juga merupakan tujuan dari agama Hindu yaitu Mokshartam Jagadhita Ya Ca Iti Dharma.
Konsep Pawongan dalam pelaksanaan Manda dimaksud adalah hubungan antara Krama Masyarakat. baik itu dari Golongan Pemangku, Prajuru Adat, Truna-Daha Desa (Krama Ngarep), Truna-Daha Banjar, maupun Krama masyarakat lainya yang tergabung dalam suatu wadah yang disebut dengan Desa Pakraman Bugbug. Karena, dalam pelaksanaan Manda ini, terjadi interaksi antara individu satu dengan individu yang lainya.
Bukan Hanya interaksi sebatas itu saja yang dimaksud, misal dalam pelaksanaan Prosesi Manda dimana Para Pamilet/peserta Manda dibagi menjadi dua barisan dimana kedua barisan ini dikomando oleh Bandesa Mas (Bandesa Yang dipilih Secara turun-temurun Dimana ada hubungannya dengan sejarah Desa Bugbug). Sehingga disanalah seseorang itu merasakan bagaimana caranya dipimpin dan memimpin sehingga memunculkan kesadaran dalam diri masing-masing individu, mengendalikan Ego karena yang muncul disini adalah kekompakan (I Ketut Resi, wawancara 4 juni 2009).
Gandhi dalam Gangga Dewi (1996:2) When The Ego Dies The Soul Awakes (Ketika ego kita telah sirna maka disana jiwa akan bangkit). Dalam pembagian Jambal walaupun tidak dilaksanakan secara kompak antara Pemangku, Krama Ngarep dan Truna-Daha Banjar akan tetapi keselarasan, rasa kekeluargaan dan persaudaraan masih tetap terjaga atas dasar ikatan Bhatin antara sesama Krama Masyarakat desa Pakraman Bugbug
c) Palemahan.
Dalam pelaksanaan Manda konsep Palemahan memang sangat diutamakan apalagi Manda ini merupakan pengaplikasian dari Bhuta Yadnya yang memang hanya dilaksanakan setahun sekali di desa Pakraman Bugbug.
Sesuai dengan urat kata palemahan dengan kata “Manda” sama yang berarti Lemah/Lingkungan Sekitar, berarti dapat dikatakan bahwa Manda adalah suatu tradisi yang diperuntukkan untuk menjaga keseimbangan antara Bhuana Agung dan Bhuana alit, dimana Bhuana Agung (Desa Pakraman Bugbug) dulunya adalah berasal dari dairah yang becek (buwug) yang sering disebut dengan istilah Telaga Ngembeng dimana sumber airnya berasal dari satu titik sedangkan pengeluarannya terdapat di dua tempat yaitu Di Candidasa dan di Bias Putih (Pasir Putih), dan tubuh manusia atau krama masyarakat Desa Pakraman Bugbug Khususnya dibawa kearah sana. pintu masuknya ada pada satu sumber (Mulut) sedangkan pengeluarannya ada dua (Saluran Kencing dan Dubur). sehingga dapat disimpulkan bahwa Bhuana Agung adalah Pencerminan dari Bhuana alit dengan kata lain Desa Pakraman Bugbug adalah satu jiwa dengan Krama masyarakat Desa Pakraman Bugbug.
2). Untuk Mengenal Batas Wilayah (Tapal Batas)
Pelaksanaaan Manda selain sebagai pengaplikasian dari Tri Hita Karana juga sebagai suatu tradisi dimana warga masyarakat supaya tahu atau eling dengan batas wilayah desa Pakraman sendiri, karena dalam prosesi Manda ini hanya berkeliling di batas-batas desa, dan bila diejawantahkan kedalam diri manusia tujuannya supaya masyarakat itu eling kepada dirinya sendiri. Karena Bhuana Agung (Desa Pakraman Bugbug) adalah suatu cerminan dari diri Krama masyarakat Bugbug itu sendiri seperti yang dijelaskan diatas.
Tonggak dari pelaksanaan Manda ini adalah berupa pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi Wasa yang tidak lain adalah sutau prasasti yang terbuat dari tembaga yang pada intinya menerangkan tentang Batas-batas wilayah Desa Pakraman Bugbug. Karena, sebelum prasasti ada di Desa Pakraman Bugbug, batas wilayah masih kabur. Sehingga, konon dulu sering terjadi konflik batas wilayah (I Ketut Resi, Wawancara 4 Juni 2009).
Jadi dalam prosesi Manda ini adalah selain untuk mengenal batas wilayah juga bertujuan supaya Krama masyaraka teling/ingat dengan diri sendiri sehingga seseorang itu sesalu dalam posisi terjaga (Awake) dalam menyongsong Penyepian Adat yang dilaksanakan keesokan harinya.
3). Wujud Penyampaian Rasa Terima Kasih
Agama Hindu mengajarkan untuk menyampaikan rasa terimakasih atas pengorbanan suci/yadnya yang telah diterima dalam kehidupan ini melalui yadnya pula. Oleh karena itu, yadnya juga dimaksudkan sebagai wahana dalam penyampaian rasa terimakasih dan rasa syukur kepada-Nya.
Wujud yang dipakai dalam penyampaian rasa terima kasih kita dalam pelaksanaan Manda ini berupa simbol-simbol yang dipakai dalam pelaksanaan Manda. Dan digunakan acuan untuk meninjau kembali apa maksud dan tujuan dilaksanakannya Manda tersebut. Simbol-simbol Agama Hindu yang dipergunakan adalah berupa sasurakan dan cepetik yang merupakan wujud dari penyampaian rasa terima kasih kepada Sang Pencipta.
Sasurakan adalah lambang dari Purusa dalam hal ini adalah berupa Lingga karena sekte yang pernah berkembang di Desa Bugbug adalah Sekte Siwa (Siwaisme), Sasurakan terbuat dari daun enau, dan daun enau di bali disebut Ambhu yang artinya “Bau wangi” yang menghantarkan sembah bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sedangkan, Cepetik itu adalah lambang yoni jika dicari arti dari kata cepetik berasal dari kata “petik” yang artinya ambil atau ngelungsur suecan ida, sehingga selain melambangkan Lingga Yoni, cepetik dan sasurakan juga berarti menyampaikan wujud terima kasih kepada Pencipta atas semua berkah yang selama ini beliau sampaikan kepada krama masyarakat semua, baik itu berupa kemakmuran maupun yang lainya. Sehingga, semua bentuk rasa terimakasih kita persembahkan kembali kepada beliau (I Ketut Resi, Wawancara 4 juni 2009).
4). Simbolisasi Penyatuan Umat Dengan Ibu Pertiwi
Manda adalah suatu tradisi tergolong unik jika dilihat dari tata bhusana yang mereka pakai dalam pelaksanaan tradisi ini, dimana sepertinya meniru dari tata bhusana di jaman nenek moyang kita. akan tetapi, sekarang terlihat lebih modern dengan tidak mengurangi makna dan tidak terlepas dari konsep awal.
Tata busana yang dimaksud adalah :
Bagi yang laki-laki yaitu berpakainya menggunakan sarung, Saput diikat agak keatas sejajar dengan dada dengan membawa Keris dan sasurakan, serta memakai destar/udeng tanpa memakai alas kaki.
Bagi yang perempuan, berpakaian mengenakan sarung. pada bagian dada sampai kebawah dibungkus dengan kain tanpa menggunakan kebaya, dengan trend rambut digonjer bagi Daha Banjar dan berpakain rejang bagi Krama Ngarep tanpa menggunakan alas kaki yang bertujuan untuk menyatukan tubuh dengan ibu pertiwi memohon keselamatan dan berkah supaya tanah menjadi subur sehingga rakyat menjadi sejahtera karena mata pencaharian pokok disana adalah bertani.
5). Untuk Mambersihkan Alam/Menetralisir Pengaruh-Pengaruh Negatif.
Setiap pelaksanaan Yadnya yang berhubungan dengan Bhuta Yadnya sudah tentu bertujuan untuk menetralisir pengaruh-pengaruh yang kurang baik/negative yang nantinya dapat digunakan untuk menyelamatkan umat manusia dari pengaruh kala,
Pemeliharaan yang dimaksud disini adalah untuk menjaga agar mereka tetap bersifat baik serta melaksanakan sesuatu menurut jalannya masing-masing, sehingga tidak menimbulkan gangguan kepada alam dan isinya:
Tattva yami brahmana vandamanastada saste yajamano havirbhih.
Ahelamano varuneha bodhyurusamsa ma na ayuh pramosih
(Rgveda: 1.24.11)
Terjemahannya:
Melalui Yajnya, kami memuja untuk mencapai tujuan akhir yaitu moksa. Melalui persembahan yajamana, Dewa Varuna akan menerimya-Nya. Oh dewa Varuna, mohon jangan tinggalkan kami, berikanlah kamipengetahuan untuk menyatukannya. Oh Tuhan janganlah kami diberi kematian sebelum waktinya.
Dalam kutipan mantra diatas dijelaskan bahwa seorang yajamana sedang melaksanakan yajnya yang bertujuan untuk kesejahteraan dibumi, dan ia mempersembahkan kembali yang segala sesuatunya karena Tuhan adalah sumber dari semua yang ada, dalam Veda juga dijelaskan seseorang yang dapat melaksanakan yajnyanya dengan baik maka orang itu akan hidup lama dan jika oang dapat melaksanakan yajnya dengan baik Dewa Varuna sebagai dewa pelindung akan memberikan berkahnya kepada kita semua (Somvir, 2001:183).
Wiana (2005:111) menyebutkan bahwa yang menjadi salahsatu Bhuta kala, peri, jin, setan dan yang lainya yang sejenis dengan hal itu adalah dewa-dewa atau roh-roh yang terkutuk karena dosa-dosanya sehingga diturunkan kedunia untuk mencari “penyupatan “ sehingga dalam pelaksanaan upacara yadnya diperlukan Upakara yang berfungsi sebagai pemelihara dan Penyupatan .
Begitu pula dengan pelaksanaan dari Manda yang juga menggunakan unsur-unsur yang berbau Bhuta Yadnya yang juga berfungsi sebagai penetralisir pengaruh-pengaruh negative/bhuta kala, sehingga manusia hidup dengan tentram, dan sejahtera sehingga tidak ada gangguan untuk melaksanakan Catur Brata Panyepian (wawancara, I Ketut Resi: 4 Juni 2009).
6). Untuk Menyeimbangkan Alam
Pelaksanaan Manda merupakan salah satu pelaksanaan yang bersejarah di Desa Pakraman bugbug. Dimana dalam tradisi ini diceritakan, dahulu sebelum Raja Purana Ini disungsung oleh masyarakat desa Pakraman Bugbug, dikisahkan desa ini masih belum stabil karena penduduk belum mengetahui batas-batas wilayah desa, pajak semakin mahal, tidak adanya peraturan atau awing-awing yang menetapkan hal tersebut sehingga masyarakat masih bingung karena tidak adanya batasan dalam bertindak karena belum adanya peraturan yang mengikat, sehingga semenjak disungsungnya raja purana di Desa Pakraman Bugbug kehidupan masyarakat menjadi stabil, dimana masyarakat mengetahui dairah yang menjadi batas-batas wilayah desanya dan sekaligus menjadi sumber awig-awing di Desa Pakraman Bugbug yang berlaku mutlak dan harus ditaati oleh seluruh masyarakat di Desa Pakraman Bugbug. (I Ketut Resi, Wawancara 4 Juni 2009).
Jika diibaratkan tubuh manusia, Desa Bugbug itu adalah Stula Sarira (Badan Kasar) sedangkan Sang Hyang Widhi Wasa adalah Atman (Suksma Sarira) yang memasuki tubuh tersebut, sehingga dalam nedunang/menghadirkan Sang Hyang Widhi Wasa dari Pura piit menuju Pura panti tergolong unik dimana proses pelaksanaannya yaitu setelah dilaksanakan serangkaian ritual maka diusunglah Sang Hyang Widhi Wasa ini dari Pura Piit menuju Pura Panti dengan melewati tembok (tidak melewati candi bentar) terus menuju Pura Panti (pura yang berada di sebelah barat Pura Desa) dan distanakan disana melalui Ujung atap dari Pura Panti tersebut. Ini melambangkan sebagaimana roh/atman yang masuk melalui ubun-ubun dan bersemayam disana sebagai atman. Sehingga dalam setiap pelaksanaanNgesanga didesa Pakraman bugbug ritual ini harus dilaksanakan (I Ketut Resi, wawancara 04 juni 2009).
Dalam Raja Purana yang berangka Tahun Caka 1103 disebutkan:
1b.5 Ri kati dopayan ikang karaman I bugbug mpu kapgan tan wringdaya, alahaleh mawicara lawan sangadmakmitan apigajih angken cetra ma.
1b.6 Sa, ikatangde trasantasah ni minah nikang karaman tan atutur sumambut swakarmmanya ri swadecanya, maka hetu ri tan paparyyanta sakwehni pa
1b.7 Driwyahajyanya, hana pwa kanitijnan paduka cri maharaja huninga rumengo phoning Manawa kaMandaka, gunagrahi kumingkin ri kacwastha nikang rat rina.
2a.1 Ksanira, makadonira pageha nikang sapta nagara, apan swabhawani kadi sira prabhu cakrawartti rajadiraja, sekarajya raja laksmi, pinaka ta patra
2a.3 Dlaha, yata karananya wineh makmitan sanghyang raja prasasti agem-agem makatma raksanyan umagehaken sarintenya atunggu karaman, maka ra.
Terjemahannya
1b.5 Mendengar keresahan penduduk desa bugbug (Cri Aji Jayapangus), susah dan bingung, tidak berdaya serta kecewa dalam berunding dengan sangadmakakmitan apigajih (nama jabatan yang bertugas mengurus pemungutan dan pengumpulan pajak istana.setiap bulan cetra(bulan kesembilan sasih kasangan menurut perhitungan tahun saka)
1b.6 Hal tersebutlah yang menyebabkan kesedihan masyarakat, putus asa dalam mengerjakan pekerjaan didesanya sendiri sehingga mengakibatkan tidak teraturnya sejumlah permasalahan.
1b.7 Adapun kebujaksanaan paduka Cri maharaja dan oleh karena baginda telah mengetahui serta mendengar inti sari Manawa kaMandaka (kitab penuntun yang berisi beberapa taa cara dalam pemerintahan.)dalam melenyapkan kesedihan demi keselematan Negara yang diperintah bagianda.
2a.1 Agar supaya tetap kukuh Sapta Negara beliau karena kewibawaan bagiabnda sebagai raja yang besar, penguasa diantara para raja, dan sekaligus sebagai penganugrah kebahagiaan
2a.3 dikemudian hari, itulah sebabnya mereka diberikan menjagai Sang Hyang Raja Prasasti sebagai pegangan, bagaikan menjaga jiwa, guna mengokohkan dirinya sendiri selama menjaga ketertiban desa
Secara Garis besar Prasasti Raja Purana ini sebenarnya menjelaskan tentang pertentangan antara satu desa dengan desa yang lain sehingga dikeluarkannya keputusan berupa batas-batas desa tersebut, sehingga konflik batas wilayah tersebut dapat reda, selain itu juga prasasti ini juga menjelaskan tentang pembebasan pajak yang dibebankan kepada masyarakat bugbug dengan tujuan mensejahterakan masyarakat desa Pakraman Bugbug disini juga dimuat awig-awig desa, organisasi masyarakat desa, yang kesemuanya itu bertujuan untuk memulihkan ketertiban dan kesejahteraan penduduk, serta sapatha/ kutukan yang dikenakan kepada penduduk yang berani melanggar kebijakan raja (Cri Aji Jayapangus) (Proyek Pengembangan permuseuman Bali, 1982:55).