Sabtu, 19 Februari 2011

estetika dalam bentuk cili-cilian dalam banten


Estetika adalah salah satu cabang filsafat. Secara sederhana, estetika adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Pembahasan lebih lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni.
Kata estetika ber asal dar i kata Aest h esi s yang ar tinya per asaan atau sensitivitas, karena memang pada awalnya pengertian ini berhubungan dengan lidah dan perasaan. Dalam pengertian teknis,Estetika adalah ilmu keindahan atau ilmu yang mempelajari keindahan, kecantikan secara umum. Pengertian ini berdasarkan kepada, bila kita memandang sesuatu obyek dan obyek itu dapat member ikan r asa senang, puas dan sebagainya yang sejalur dengan kata tersebut, maka dapat dikatakan obyek yang dipandang itu mengandung keindahan. Dalam perkembangannya, pengertian ini, kemudian berubah meluas, tidak lagi berkaitan dengan lidah dan per asaan, tetapi ber hubungan dengan pikir an, etika dan logika.
Teori The Liang Gie menjelaskan bahwa, pengertian keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai seperti halnya nilai Moral, nilai Ekonomi, nilai Pendidikan, dan sebagainya. Nilai yang ber hubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut Nilai Estetik.
Masalah sekarang ialah: apakah Nilai Estetik. Itu, Dalam bidang filsafat, istilah nilai sering kali dipakai suatu kata benda abstrak yang berarti keber har gaan (Worth) atau kebai kan (Goodness).
Hal itu berarti, bahwa nilai ini adalah semata-mata adalah realita psikologi yang har us di bedakan secar a tegas dar i kegunaan, kar ena ter dapat dalam jiwa manusia dan bukan pada hendaknya itu sendiri. Nilai itu (oleh orang) dianggap terdapat pada suatu benda sampai terbukti letak kebenar annya.
Tentang nilai itu ada yang membedakan antara nilai subjektif dan objektif
                Begitu halnya dengan banten atau canang juga memiliki nilai estetika atau kehindahan didalamnya disamping memiliki nilai filosofis yang begitu mendalam. Bunga menjadi unsur pokok dalam canang. Warna-warnanya dan berbagai jenis bunga menjadi bagian penting dalam merangkai keindahan itu. Dan tanpa disadari, pewarisan keterampilan mejajahitan dan matanding ini adalah sebuah pewarisan seni hidup, seni merangkai keindahan, mengapresiasi estetika.
Banten atau canang memiliki beberapa bentuk sehingga memiliki nama yang berbeda dan memiliki bagian yang berbeda pula seperti halnya cili-cilian yang terdapat di beberapa bagian canang atau banten yang memiliki nilai atau tingkat kesenian yang begitu dalam, sebagai halnya Lamak untuk upacara keagamaan, adalah lamak yang memakai simbul- simbul keagamaan yang lengkap misalnya, simbul gunungan, kekayonan, cili- cilian, bulan, bintang, matahari dan sebagainya, dan pemasangannya dilengkapi dengan gantungan- gantungan dan pelawa.
Untuk keperluan lain tidak dipergunakan simbul- simbul yang lengkap, serta pemasangannya tidak disertai gantungan- gantungan dan pelawa. Beberapa bagian tersebut memiliki bentuk dan makna yang berbeda secara filosofis dan bagian tersebut juga memiliki nilai estetika yang besar sehingga menambah keindahan bentuk dari lamak tersebut.
            Contoh lain banten yang menggunakan cili-cilian adalah Daksina yang dipergunakan sebagai Linggih yang disebut bedogan yang terbuat dari janur. Kemudian bedogan tersebut dialasi wakul/ bakul dari bambu yang bentuknya menyerupai selinder, di samping wakul dari bambu masih diberi alas bokor, yaitu sebuah tempat yang menyerupai mangkok yang terbuat dari emas, perak atau bahan dari logam lainnya. Selanjutnya diberi serobong yang terbuat dari daun janur atau ental (daun lontar), adapun gegantusan isinya terdiri dari tampak, beras, benang tukelan, kelapa, , pesel-peselan, bija ratus, pisang, telur itik, uang kepeng, khusus untuk daksina linggih/pralingga selain uang kepeng yang ditempatkan di kojong, juga menggunakan uang kepeng yang diikat sedemikian rupa sehingga membentuk lingkaran, jumlahnya 225 buah untuk landasan bawah yang disebut lekeh.
Delengkapi dengan canang payasan yang tempatnya berbentuk segi tiga (ituk-ituk) dilengkapi dengan porosan, merupakan unsur terpenting yang dibuat dari daun sirih, irisan pinang, dan kapur. Ketiga bahan ini digabung menjadi satu diikat denga janur, lalu di atas porosan ini diberi bunga segar dan harum. Bagian luarnya yaitu bedongannya diberi wastra (kain putih kuning seperti layaknya kita memakai kain).
Daksina Linggih ini dilengkapi dengan peperai/ wajah/ muka, bisa terbuat dari janur yang menyerupai cili (berbentuk kipas) atau daun lontar yang dibuat sifatnya permanen dengan maksud bisa disimpan dan dapat dipergunakan pada waktu kesempatan lain. Model atau bentuknya bisa dibuat bermacam-macam sesuai sesuai dengan seni yang membuatnya terlihat indah dan enak dipandang mata sehingga nilai kesenian atau estetika muncul didalamnya sehingga daksina yang kita buat akan terasa memiliki makna sekali,
cili adalah kembang payas yang dibuat dari serangkaian jejahitan janur yang sudah diringgit / dibentuk. Melambangkan nada, reringgitan melambangkan rasa ketulusan hati. Yang biasanya diisi bunga hidup yang masih segar dan berbau harum / wangi melambangkan kesegaran dan kesucian pikiran dalam beryadnya.
Sesuai denngan beberapa contoh banten dan pengertian dari bentuk cili-cilian yang terdapat dalam banten atau canang maka dapat dikatakan bahwa selain bentuk cili ini memiliki nilai filosofis dalam canang dapat dikatakan bahwa cili-cilian ini memiliki nilai estetika yang tidak kalah dari unsure banten yang lain dimana bentuk cili ini dikatakan bahwa serangkaian jejahitan janur yang sudah diringgit yang dibuat dan menyerupai kembang payas yang berbentuk buah cili yang terlihat menawan sekali dalam sebuah banten atau canang sehingga banten akan terlihat lebih indah dan seni karena berisi reringgitan sebagai tambahan dari mine bantennya atau canang tersebut. Seperti halnya manusia yang mengenakan perhiasan akan terlihat lebih menarik dari sebelumnya, begitu pula dengan banten tersebut akan terlihat menarik bila ditambahi dengan unsure yang bersifat seni dalam hal ini adalah janur yang dirangkai dalam bentuk cili walaupun unsure ini dapat dikatakan harus diisi dalam beberapa jenis banten. Seperti halnya Sampian Kewangen berbentuk cili dari daun kelapa (busung) dan dihiasi dengan
bunga-bunga yang harum. Sampian Kewangen sebagai simbol “Nada” ( ). Unsur
ini paling dominan terlihat dalam mendukung estetika kewangen. Sampian kewangen dari rangkaian tuesan daun kelapa dibuat mengikuti unsur-unsur
keindahan dalam dan dipadukan dengan bunga warna-warni serta harum serta
penataan yang mengikuti komposisi seni bentuk (seni rupa) tentu akan
menambah keindahan (estetika) sebuah “kewangen”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar