Sejarah Singkat Desa Bugbug
Di Desa Bugbug terdapat beberapa prasasti, namun tampaknya belum terdapat bukti yang dapat dipakai dasar untuk mengetahiu asal-usul berdirinya desa Pakraman Bugbug Terlepas dari itu, terdapat suatu cerita turun temurun tentang berdirinya Desa Pakraman Bugbug (sumber: I Wayan Terang Pawaka, Seorang Tokoh Masyarakat), yang dapat dijadikan informasi. Jika mempelajari sejarah Desa Adat Bugbug tidak pernah terlepas dari kawisesan Ida Gede (Bhatara Gde Gumang) yang dapat menciptakan sebuah sungai bernama Tukad Buhu dengan Tapa, Yoga dan Samadhi beliau dan memohon kepada Hyang Parameswara yang berstana di gunung Toh Langkir (Gunung Agung) supaya ada aliran sungai disebelah barat bukit penyu (Bukit Dukuh), dari yoga tersebutlah diutus Bhatari Giri Putri untuk meneteskan Tirtha Amerta dari sebuah Kendi Manik. Untuk memenuhi titah dari Hyang Perameswara diutuslah Bhatari Giri Putri menyamar sebagai seorang yang tua renta dengan membawa air suci (Tirtha Amertha) yang dibungkus dengan sehelai daun Kaumbang (sejenis daun talas) dengan tujuan untuk menguji Ida Gde yang sedang memohon air.
Disini juga diceritakan orang tua yang juga perwujudan dewata, secara diam-diam mengambil air yang ditaruh diatas ranting sebuah kayu dari tanaman Perdu yang ditaruh oleh orang tua/Bhatari Giri Putri dalam daun Talas tersebut, tanpa disadari Tirtha Amerta itu menetes dan memerciki tanah, maka munculah mata air yang sangat besar yang sekarang menjadi Telaga Tista. Bhatari Giri Putri segera tahu bahwa orang yang mengambilnya adalah seorang perwujudan dewata yang bernama Ida Gde Bangkak. Maka dititahkannya Bhatara Gde Bangkak ini oleh Ida Gde (Bhatara Gde Gumang) untuk mempertanggung jawabkan dan mengendalikan perjalanan air sampai ke hilir yaitu sampai ke laut selatan yang disebut dengan Tukad Buhu.
Dalam perjalanan air menuju tukad buhu maka bertemulah Ida Gde Bagkak dengan Ida Gde yang sedang beryoga diatas sebuah kikis (sejenis pemangkas rumput disawah) seraya bertanya kepada Ida Gde, Akan diarahkan kemanakah aliran sungai ini?
Kemudian Ida Gde menunjuk sebuah Bukit Penyu (Bukut Dukuh) karena bentuknya mirip dengan Penyu yang ada di desa Pakraman Bugbug, agar air tersebut mengalir di sebelah barat bukit tersebut dan langsung menuju laut lepas. Setelah terbentuknya sebuah aliran sungai. Maka, timbulah keinginan Ida Gde (Bhatara Gde Gumang) untuk mempersatukan masyarakat yang berada di gubuk-gubuk di areal persawahan yang konon banjir melanda dairah tersebut yang disebabkan oleh Hujan yang begitu lama sehingga menghambat seluruh aktifitas dari masyarakat yang ada di tempat tersebut, termasuk penguburan mayat.
Tempat yang dipilih oleh Ida Gde adalah di Pangiyu (lateng Ngiyu), namun setelah diperhatikan ternyata tempat tersebut sangat sempit dan kurang mendukung. Maka, ditinjaulah dairah di bagian timur Bukit Penyu yang terdapat genangan air berwarna biru yang di sebutnya dengan Telaga Ngembeng atau Banu Wka. Tempat ini ternyata sangat baik, datar dan luas, sehingga cocok untuk dijadikan tempat pemukiman untuk sebuah desa dan disinalah beliau membangun sebuah desa. Dengan upaya menimbun genangan air (telaga Ngembeng) itu, guna mengumpulkan dan mempersatukan orang-orang yang mendiami gubuk-gubuk yang tersebar di areal persawahan disekitar tempat tersebut.
Masyarakat kemudian melakukan pekerjaan menimbun genangan air tersebut, tetapi tiada hasil apa-apa dengan kata lain Telaga Ngembeng itu tetap menjadi telaga yang masih digenangi air. Dan hampir mencapai puncak keputusaasaan dari Krama yang bekerja menimbun genangan air (telaga ngembeng) itu, barulah Ida Gde (Bhatara Gde Gumang) beryoga dan mempersatukan sabda, bayu, idep untuk menyatu dan manunggal dengan Bhatara Kala, tanpa diketahui oleh Krama masyarakat tersebut dan tak lama kemudian muncullah seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dan gagah perkasa yang merupakan wujud lain dari Ida Gde (Bhatara Gde Gumang) yang sudah menyatu dengan Bhatara Kala, dimana orang-orang (Krama Masyarakat) tidak mengenali beliau, dan beliau menamakan dirinya sebagai Ki Taruna Bali. Orang atau perwujudan Dewata inilah yang menyanggupi untuk menimbun genangan air yang berwarna biru (Telaga Ngembeng) itu, asalakan dirinya di tanggung makan dan minum oleh Krama masyarakat tersebut yang telah mendirikan gubuk-gubuk sementara di sekitar telaga ngembeng itu, Krama masyarakat itu kemudian menyanggupi kemauan beliau untuk menganggung semua makan dan minum beliau.
Ki Taruna Bali mulai melakukan aktifitasnya menimbun genangan air tersebut, setelah beberapa lama melakukan pekerjaan, tersebutlah bahwa porsi makan dan minum Ki Taruna Bali itu kian hari kian bertambah banyak yang membuat orang orang (Krama masyarakat) yang tradinya berjanji dan siap untuk menanggung makan dan minumnya menjadi kewalahan, beberapa lama kemudian hampir selesailah tugas Ki Taruna Bali untuk menimbun genangan air tersebut disaat itulah muncul niat yang kurang baik dari krama masyarakat untuk memperdayai atau membinasakan Ki Taruna Bali,. Akan tetapi Ki Taruna Bali yang merupakan perwujudan dewata itu mengetahui niat yang kurang baik dari Krama masyarakat tersebut. Namun, karena keprihatinan beliau akan kesetiaan dan dan ketulusan dari Krama masyarakat tersebut, Ki Taruna Bali yang sangat bijaksana itu, memberikan jalan keluarnya dengan syarat da pamoran doeng (Jangan menorehkan kapur saja), maksunya adalah janganlah senantiasa mempunyai niat yang kurang baik seperti itu, dan mengatakan kepada seluruh krama masyarakat agar nantinya melakukan kewajibannya menyelenggarakan upacara dengan membuat upakara babanten pacaruan lengkap dengan rajah (Gambar) wong-wongan yang dikelilingi oleh tarian rejang, yang ditarikan oleh anak-anak mereka yang masih muda (Daha), pada setiap diadakan pangaci-aci atau usabha pada bulan pertama purnama sasih kasa nuju beteng di tempat ini (bekas Telaga Ngembeng), dan sebelum dilakukan upacara harus dilakukan pembersihan di tempat ini dengan jalan nuhur tirtha dari tengah lautan atau melasti. Dan para dewata distanakan pada sebuah panggungan, dan persis di tengah Telaga Ngembeng inilah dibangun penataran Bale Agung dan kahyangan patokan sebagai stana Bhatara Gde sakti yang selalu dipuja sebagai uttpati sebagai pusat atau poros yang dinamakan penataran bale agung yang senantiasa terus ditaati oleh orang-orang yang menjadi Krama Desa Pakraman Bugbug secara turun-temurun, dan terbentuklah sebuah desa yang dinamakan “Desa Bugbug” yang dalam bahasa Bali berarti pusat atau dipersatukan, yang pada mulanya terdiri dari beberapa tempat atau pra-desa yang berada pada dairah Sabuni, Tegakin, Malegok, Lumpadang, Mel Pahang, Pangiyu, Gantalan, Gorek, Lebah Kangin, dan Delod Poh yang dipusatkan atau dipersatukan menjadi satu yang bernama desa Bugbug tepatnya didairah Telaga Ngembeng tersebut.
Demikianlah mitologi tentang desa Pakraman Bugbug yang berada di kecamatan Karangasem dan Kabupaten Karangasem yang bermula dari sebuah sungai Buhu dan ditimbunnya Telaga Ngembeng sebagai lahan untuk mendirikan sebuah desa serta adanya keyakinan masyarakat da pamoran doeng ( janganlah senantiasa memikili niat yang kurang baik)
Artikel ini perlu dibaca oleh warga desa bugbug untuk memahami lebih luas tentang desa bugbug.
BalasHapusKost Jimbaran
harus di pertahankan sejarah desa bugbug
BalasHapusSemua desa di Bali pasti ada sejarahnya yang mana masih belum diketahui oleh masyarakat/krama desa yang bersangkutan apalagi generasi muda nya. Untuk itu perlu penelusuran sejarah dan dibuatkan catatan/bukunya.
BalasHapus