Aci Tatebahan Di Desa Pakraman Bugbug
Aci Tatebahan merupakan nama salah satu upacara agama yaitu upacara Dewa yadnya yang terdapat serta terselenggara di Desa Pakraman Bugbug. Upacara Aci Tatebahan (Dewa yadnya) dilaksanakan secara rutin setiap satu tahun sekali, dimana Aci Tatebahan sudah dianggap oleh masyarakat Desa Pakraman Bugbug sebagai tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyang masyarakat Desa Pakraman Bugbug secara turun temurun. Pelaksanaan Aci Tatebahan yang ada di Desa Pakraman Bugbug dilaksanakan selama satu hari yaitu tepatnya setiap hari purnama sasih desta, tumpek krulut, nuju triwara beteng, penanggal ping molas, berdasarkan kalender Bali (Paileh Aci Desa Adat Bugbug, 1996 : 48). Penyelenggara Aci Tatebahan adalah masyarakat terutama kelompok petani sawah dan ladang yang didukung oleh anggota masyarakat lainnya (Awig-Awig Desa Adat Bugbug 2002 : 30). Upacara Aci Tatebahan tersebut merupakan upacara yang unik di Desa Pakraman Bugbug. Hal ini disebabkan karena sarana upakara yang mendukung dalam proses pelaksanaannya sangat kompleks yaitu dari berbagai jenis bebanten dan sarana-sarana pendukung lainnya seperti pelepah daun pisang (papah biu), dan hasil panen di kebun seperti umbi-umbian, kacang-kacangan dan sayur-sayuran, jagung, cabai, buah kelapa, palabungkah (jahe, kunyit, isen, langkuas).
Kelangsungan prosesi Aci Tatebahan ini dilaksanakan dua tahapan yaitu pertama dilaksanakan di seluruh banjar adat, kemudian yang kedua dilaksanakan di natar Bale Agung, dengan diiringi gamelan beleganjur. Upacara Aci Tatebahan merupakan upacara Dewa yadnya dimana upacara tersebut merupakan upacaranya Dewa Sangkara yang merupakan lambang kemakmuran dan kesuburan yang ada di kebun (Pawaka).
Aci Tatebahan bagi masyarakat Desa Pakraman Bugbug pada khususnya dan masyarakat Hindu pada umumnya mengandung nilai sosial budaya yang luhur. Hal ini terbukti dari solidaritas kepada lingkungan masyarakatnya yang masih setia kepada tradisi yang ada. Bahkan masyarakat yang terbagi menjadi beberapa kelompok atau organisasi ikut berpartisipasi dalam proses pelaksanaan Aci Tatebahan dengan berpegang teguh pada falsafah Tri Hita Karana. Sehingga keberadaan Aci Tatebahan di Desa Pakraman Bugbug merupakan salah satu identitas masyarakat Desa Pakraman Bugbug, Karangasem.
Rangkaian Jalannya Aci Tatebahan
Secara singkat akan diuraikan jalannya prosesi upacara Aci Tatebahan sebagai berikut :
Seperti yang telah kita ketahui di atas, upacara Aci Tatebahan dilaksanakan pada waktu purnama sasih desta, tumpek krulut, nuju triwara beteng, pinanggal ping molas berdasarkan kalender Bali. Rangkaian pelaksanaan Aci Tatebahan dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama di banjar adat dan tahap kedua di natar Bale Agung. Semua rangkaian jalannya Aci Tatebahan harus diikuti dengan baik sesuai dengan falsafah Tri Hita Karana.
Sebelum pelaksanaan Aci Tatebahan ini dilaksanakan para krama banjar adat terlebih dahulu mempersiapkan segala keperluan bahan yang akan dipergunakan untuk melaksanakan ritual Aci Tatebahan. Adapaun bahan/sarana yang diperlukan di banjar adat yaitu pelepah daun pisang dan bahan-bahan hasil panen yang ada di kebun, seperti umbi-umbian, kacang-kacangan, sayur-sayuran, jagung, buah kelapa, cabe, palabungkah (jahe, kunyit, isen, langkuas, cekuh, gamongan). Dari banyaknya bahan-bahan yang diperlukan maka diwajibkan krama masing-masing banjar adat mengeluarkan kurang lebih 10 pelepah daun pisang dan kayu bakar, sedangkan sarana-sarana yang lain dari hasil panen di kebun disediakan oleh saya (juru arah) dari masing-masing banjar adat, dengan biaya dari kas banjar adatnya masing-masing.
Keesokan harinya pukul 05.30 wita krama banjar adat beerkumpul di banjar adatnya masing-masing. Mereka bersama-sama mengumpulkan bahan-bahan atau sarana yang diperlukan. Kemudian krama banjar adat membuat makanan dari hasil-hasil panen dikebun. Setelah selesai menyiapkan makanan sehingga siap disajikan, terlebih dahulu dilakukan ngejot (mempersembahkan makanan kepada Hyang Widhi Wasa di palinggih baik yang ada di masing-masing banjar adat maupun di Bale Agung). Setelah melaksanakan persembahan (ngejot), acara dilanjutkan dengan menikmati makanan yang telah disiapkan dengan cara magibung (makan bersama secara berkelompok 8 orang) di masing-masing banjar adat. Keunikan makan megibung ini yaitu semua warga banjar adat pada saat itu saja memasak makanan dan menikmati makanan yang berasal dari hasil-hasil panen di kebun.
Setelah selesai makan secara magibung di banjar adat masing-masing, sekitar pukul 08.30 wita para krama banjar adat membawa pelepah daun pisang (papah biu) dari banjar adat masing-masing ke natar Bale Agung. Sebelum prosesi di natar Bale Agung ini dimulai terlebih dahulu semua krama yang akan ikut berpartisipasi dalam Aci Tatebahan melaksanakan persembahyangan bersama yang dipimpin oleh pemangku desa.
Setelah melaksanakan persembahyangan, maka Aci Tatebahan mulai dilaksanakan di natar Bale Agung. Prosesi upacara di natar Bale Agung ini yaitu masyarakat antara yang satu dengan yang lainnya dengan tidak memakai baju saling cambuk, saling pukul-memukul dengan pelepah daun pisang dengan diiringi oleh gamelan beleganjur. Pelaksanaan upacara saling pukul memukul secara bergantian ini hampir mirip dengan upacara perang pandan yang ada di Desa Tenganan, hanya saja berbeda dalam jenis alat/bahan yang digunakan, dimana pada perang pandan di Desa Tenganan digunakan daun pandan berduri sebagai sarananya.
Dalam prosesi Aci Tatebahan di natar Bale Agung, terdapat aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh krama yang ikut terlibat yaitu : (1) dilakukan oleh dua orang secara berhadap-hadapan, (2) tidak boleh ada unsur dendam dan marah (harus dilakukan secara sukacita dan sukarela), (3) tidak boleh mengenai kepala dan di bawah pusar, (4) tidak boleh memakai baju (Pawaka, wawancara, 21 Mei 2008).
Aturan-aturan di atas merupakan aturan yang dijadikan pedoman oleh seluruh krama desa Bugbug yang mengikuti upacara Aci Tatebahan, sehingga banyak krama yang ikut berpartisipasi di dalam prosesi tersebut mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Ini menandakan bahwa di Desa Pakraman Bugbug masih kuat sekali hubungan sosial religius diantara masyarakatnya. Setelah melaksanakan prosesi saling pukul-memukul antara dua orang krama, dilakukan pemercikan tirta (air suci) kepada masing-masing krama tersebut untuk memproleh keselamatan. Setelah kurang lebih dua jam, pelaksanaan upacara Aci Tatebahan di natar Bale Agung diakhiri dengan perasaan sukacita dan gembira dari krama Desa Pakraman Bugbug.
Upakara Yang Diperlukan
Mengingat Aci Tatebahan yang terselenggara di Desa Pakraman Bugbug merupakan bagian dari yadnya, salah satunya adalah dewa yadnya. Maka didalam pelaksanaannya sudah tentu memerlukan sarana upacara (upakara) yang dipakai dalam persembahan. Adapun sarana upacara yang dipergunakan untuk mendukung pelaksanaan Aci Tatebahan ini menurut Manggalaning Yadnya Desa Pakraman Bugbug, sarana upacara yang diperlukan adalah pelepah daun pisang dan hasil-hasil panen di kebun seperti umbi-umbian, kacang-kacangan, sayur-sayuran, cabe, buah kelapa, dan palabungkah (jahe, kunyit, isen, langkuas, cekuh gamongan) (Resi,).
Disamping sarana upacara di atas yang mendukung pelaksanaan Aci Tatebahan, terdapat juga sarana yang lain yang berupa bebanten Aci Tatebahan. Adapun sarana upacara (bebanten) tersebut antara lain pangulap, ketipat bantal, pajegan, peras, daksina, dan segehan manca warna (Widiasih, wawancara).
Sarana upakara di atas merupakan sarana yang sangat mendukung dalam prosesi pelaksanaan Aci Tatebahan. Adapun sarana upakara berupa bebanten ini dikerjakan oleh tukang desa (tukang banten). Sedangkan sarana pendukung lainnya seperti hasil-hasil panen di kebun disiapkan dan dikerjakan secara bersama-sama oleh krama banjar adat di masing-masing banjar adat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar